Perlunya Kekudusan Saat Berdoa

PERLUNYA KEKUDUSAN DALAM BERDOA

Banyak orang sudah berdoa tetapi tidak menerima jawaban Tuhan. Tidak sedikit orang berdoa untuk seorang yang sakit, namun kesembuhan tidak terjadi juga. Sebagian orang lagi berdoa untuk masalah-masalahnya, tetapi doanya laksana hilang lenyap terbawa angin. Lalu orang mulai bertanya: di manakah Tuhan? Mengapa Ia tak mau menjawab? Atau sebenarnyakah Tuhan memang tidak ada? Doa seperti itu, dan pertanyaan-pertanyaan serupa sepertinya banyak dijumpai pada orang-orang yang belum mengenal Tuhan dengan baik, bahkan sekalipun mereka adalah orang-orang Kristen.

“Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah, karena engkaulah yang menolak pengenalan itu,… dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, … (Hosea 4:6)

Ayat tersebut menjelaskan perlunya umat Tuhan untuk mengenal Dia, untuk memahami sifat-Nya, untuk memahami hukum-hukum-Nya, supaya kita dapat hidup dan mengalami kegenapan janji-Nya.

Berdoa adalah berbicara kepada Bapa Surgawi; selain menaikkan permohonan, kita juga memuji-Nya, memuja-Nya, mengagungkan kebesaran-Nya dan mengucap syukur karena segala kebaikan-Nya dan karena semua perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya atas kita. Tetapi satu hal yang harus selalu kita ingat adalah ini: bahwa Bapa Surgawi itu Kudus (Imamat 11:44), dan seseorang yang tidak kudus adalah menjijikkan di hadapan-Nya.

Sebab sekalipun seseorang berdoa dengan melolong-lolong, dengan linangan air mata, bahkan dengan mengucurkan darahnya, tetapi jika ia tidak mau menyadari kesalahannya dan tidak mau bertobat dari semua dosanya, maka Tuhan juga akan menutup telinga-Nya dan tidak akan menolongnya (Yes 59:1-3) karena seorang pendosa yang tidak mau bertobat adalah najis bagi-Nya. Inilah salah satu hal yang dapat menjadi penyebab doa seseorang menjadi terhalang. Tetapi masih ada hal lain yang juga dapat menjadi penghalang doa:

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu” (Markus 11:25).

Ayat itu mengajar kita, bahwa setiap orang yang belum mau mengampuni sesamanya, maka dosanya juga belum diampuni Tuhan, karena itu ia masih berdosa, ia masih menjijikkan di hadapan Tuhan. Itulah salah satu hal lain yang bisa menghalangi doa.

Jika dalam hal berdoa, kita sudah mengawali dengan cara yang benar, maka langkah berikutnya adalah melakukan doa dengan segenap hati , dengan mengarahkan segenap hati, pikiran dan akal budi kita kepada Pribadi-Nya, dan menaikkan setiap pujian, pengagungan, pemujaan dan ucapan syukur yang keluar dari hati dan dengan sepenuh-penuh kesadaran dan kesungguhan, maka Bapa Surgawi akan menyambut doa kita dengan kedua tangan-Nya yang terbuka.

Dijauhkanlah kita dari cara berdoa seorang munafik yang disindir Tuhan melalui ayat ini:

Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah-perintah manusia yang dihafalkan,…” (Yesaya 29:13)

Berdoa dalam kekudusan, dan dilakukan dengan cara yang benar, akan memastikan kita memasuki hadirat-Nya, di mana pintu-pintu berkat telah terbuka, sehingga kita dapat menerima baik berkat-berkat rohani, berkat jasmani (kesehatan, kesembuhan) maupun berkat materi.

Ringkasan kotbah ibadah Minggu, 21 Maret 2010,

Pembicara: Abraham Hari Endarwanto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s